Jumat, 28 Desember 2012

Contextual Teaching and Learning (CTL)


Latar Belakang Pengembangan Pendekatan Kontekstual
Dewasa ini pembelajaran kontekstual telah berkembang di negara-negara maju dengan nama yang beragam. Di negara Belanda dikenal dengan istilah Realistic Mathematic Education (RME) atau pembelajaran Matematik Realistik (PMR), dengan beberapa karakteristik, yakni: (1) menggunakan kontekstual, (2) menggunakan situasi dan pendekatan yang dikembngkan sendiri oleh siswa, (3) menggunakan kontribusi siswa, (4) proses belajar yang interaktif dan terintegrasi dengan topik pembelajaran lain.
Di Amerika terkenal dengan istilah Contextual Teaching and Learning (CTL) yang intinya adaah membantu guru untuk mengaitkan materi pelajaran dengan kehidupan dunia nyata dan memotivasi siswa untuk mengaitkan pengetahuan yang dipelajarinya dengan kehidupan sehari-hari mereka.[1]
Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning (CTL)) merupakan konsep yang membantu guru menkaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami.[2]
CTL dikembangkarrn oleh The Wasingnton State Concortium for Contextual Teaching and Learning yang melibatkan 11 perguruan tinggi, 20 sekolah, dan lembaga-lembaga yang bergerak dalam dunia pendidikan Amerika Serikat. Salah satu kegiatannya adalah melatih dan memberi kesempatan kepada guru-guru dari enam provinsi di Indonesia untuk belajar pendekatan kontekstual di Amerika Serikat melalui Direkotrat SLTP Depdiknas. Alasan mengapa pembelajaran kontekstual dikembangkan sekarang ini:[3]
1.      Penerapan konteks budaya dalam pengembangan silabus, penyusunan buku pedoman guru, dan buku teks akan mendorong sebagian siswa untuk tetap tertarik dan terlibat dalam kegiatan pendidikan.
2.      Penerapan konteks sosial dalam pembangunan silabus, penyususnan buku pedoman, dan buku teks dapat meningkatkan kekuatan masyarakat memungkinkan banyak anggotaa masyarakat untuk mendiskusikan berbagai isu yang dapat berpengaruh terhadap pengembangan masyarakat.
3.      Penerapan konteks personal yang dapat meningkatkan ketermpilan komunikasi, akan membantu lebih banyak siswa untuk secara penuh terlibat dalam kegiatan pendidikan dan masyarakat.
4.      Penerapan konteks ekonomi akan berpengaruh pada peningkatan kesejahteraan sosial politik.
5.      Penerapan konteks politik dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang berbagai isu yang dapat berpengaruh terhadap masyarakat.

Penerapan Pembelajaran Kontekstual (CTL)
Agar dapat mengimplementasikan pembelajaran kontekstual guru melaksanakan hal-hal sebagai berikut:
1)      Merencanakan pembelajaran sesuai dengan perkembangan mental (developmentally approprite) peserta didik.
2)      Membentuk group belajar yang saling tergantung (interdependent learning groups).
3)      Mempertimbangkan keragaman peserta didik (diversity of students).
4)      Menyediakan lingkugan yang mendukung pembelajaran mandiri (self-regulated learnig) dengan 3 karakteristik umumnya (kesadaran berpikir, penggunaan strategi dan memotivasi berkelanjutan)
5)      Memperhatikan multi-intelegensi (multiple intelligences) peserta didik.
6)      Menggunakan teknik bertaya (questioning) yang meningkatkan pembelajaranpeserta didik, perkembangan pemecahan masalah dan keterampilan berpikir tingkat tinggi.
7)      Mengembangkan pemikiran bahwa peserta didik akan belajar lebih bermakna bila mereka diberi kesempatan untuk bekerja, menemukan, dan mengkronstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan baru (contructivism)
8)      Memfasilitasi kegiatn penemuan agar peserta didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan melalui penemuannya sendiri (bukan hasil mengingat sejumlah fakta)
9)      Mengembangkan sifat ingin tahu peserta didik melalui pengajun pertayaan (questioning)
10)  Menciptkan masyarakat belajar (learning community) dengan membangun kerjasama antar peserta didik.
11)  Memodelkan sesuatu agar peserta didik dapat menirunya untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru.
12)  Mengarahkan peserta didik untuk merefleksikan tentang apa sudah dipelajari.
13)  Menerapkan penilaian autentik.[1]
Pelaksanaan pembelajaran meliputi tiga hal berikut:[2]
1)      Pre test, yaitu tes yang dilakukan sebelum proses belajar mengajar dimulai. Tujuanya adalah untuk mengetahui kemampuan awal yang telah dimiliki peserta didik mengenai materi yang akan diajarkan.
2)      Proses, yaitu kegiatan-kegiatan inti dari pelaksanaan pembelajaran untuk mencapai tujuan-tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. Proses pembelajaran perlu dilakukan  secara aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.
3)      Post test, yaitu tes yang dilakukan setelah proses pembelajaran selesai. Fungsi post test adalah untuk mengetahui tingkat penguasaan peserta didk terhadap kompetensi yang telah ditentukan, baik secara individu maupun kelompok.
Pada intinya pengembangan setiap komponen CTL dalam pembelajarn dapat dilakukan sebagai berikut:[3]
1)      Mengembangkan pemikiran siswa untuk melakukan kegiatan belajar lebih bermakna apakan dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan menonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan baru yang harus dimilikinya.
2)      Melaksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiri untuk semua topik yang diajarkan.
3)      Mengembangkan sifat ingin tahu siswa melalui memunculkan pertanyaan-pertanyaan.
4)      Menciptakan masyarakat belajar, seperti kegiatan kelompok, berdiskusi, tanya jawab dan lain sebagainya.
5)      Menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran, bisa melalui ilustrasi, model bahkan media yang sebenarnya.
6)      Membiasakan anak untuk melakukan refleksi dari setiap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan.
7)      Melakukan penilaian secara objektif, yaitu menilai kemampuan yang sebenarnya pada setiap siswa.

Kelebihan & Kekurangan Contextual Teaching and Learning
1.    Kelebihan
a.       Pembelajaran menjadi lebih bermakna dan riil. Artinya siswa dituntut untuk dapat menagkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting, sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa materi itu akan berfungsi secara fungsional, akan tetapi materi yang dipelajarinya akan tertanam erat dalam memori siswa, sihingga tidak akan mudah dilupakan.
b.      Pembelajaran lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada siswa karena metode pembelajaran CTL menganut aliran konstruktivisme, dimana seorang siswa dituntun untuk menemukan pengetahuannya sendiri. Melalui landasan filosofis konstruktivisme siswa diharapkan belajar melalui ”mengalami” bukan ”menghafal”.
2.         Kelemahan
a.       Guru lebih intensif dalam membimbing. Karena dalam metode CTL. Guru tidak lagi berperan sebagai pusat informasi. Tugas guru adalah mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan pengetahuan dan ketrampilan yang baru bagi siswa. Siswa dipandang sebagai individu yang sedang berkembang. Kemampuan belajar seseorang akan dipengaruhi oleh tingkat perkembangan dan keluasan pengalaman yang dimilikinya. Dengan demikian, peran guru bukanlah sebagai instruktur atau ” penguasa ” yang memaksa kehendak melainkan guru adalah pembimbing siswa agar mereka dapat belajar sesuai dengan tahap perkembangannya.
b.      Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide–ide dan mengajak siswa agar dengan menyadari dan dengan sadar menggunakan strategi–strategi mereka sendiri untuk belajar. Namun dalam konteks ini tentunya guru memerlukan perhatian dan bimbingan yang ekstra terhadap siswa agar tujuan pembelajaran sesuai dengan apa yang diterapkan semula.


[1] Junaidi dkk, Strategi Pembelajaran Pendidikan Guru MI, (Surabaya: LAPIS-PGMI), 2008, hal. 13- 17
[2] Kunandar, Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru, (Jakarta: Rajawali Pers), 2010, hal.351
[3] Rusman, Op. Cit. Hal. 199
 



[1] Elhefni dkk, Strategi Pembelajaran: Relevansi Contextual Teaching and Learning (CTL) dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), (Palembang: CV. Grafika Telindo), 2011, hal.54
[2] Yatim Riyanto, Paradigma Pembelajaran Baru, (Jakarta: Kencana), 2012, hal.
[3] Elhefni dkk, Op. Cit., hal.54

Tidak ada komentar:

Posting Komentar